Ada harapan atau ekspektasi tertentu yang ada di benak hati kita ketika berkunjung ke sistem audio milik teman kita. Adanya ekspektasi ini pulalah yang ada di hati kami, redaksi majalah Audio Video & Lifestyle (AVL) setiap kali berkesempatan datang ke ruang audio milik pehobi yang mengundang. Ekspektasi itu kadang berlainan. Jika kami tahu bahwa yang kami datangi memakai sistem sederhana atau memakai speaker bookshelf, maka ekspektasinya bisa saja berlainan dibandingkan bila akan mengunjungi sistem papan atas dengan speaker besar (floorstanding), walau sama sama merindukan tampilan yang musical. Mengapa ?

Jawabnya mudah saja. Kian tinggi kelas sistem yang kita akan kunjungi, harapan kita bisa kian bertambah. Berkunjung ke sistem super high end, tentu saja kita ingin menikmati sebuah tampilan yang sangat berkelas, megah, dengan panggung yang rapi, terkontrol,bermain dinamik tanpa kompresi, lengkap di semua lini frekuensi, dan lain lain. Maka, tak heranlah bila suatu kali kita berkunjung ke sistem seperti ini, tetapi tak menemukan apa yang menjadi ekspektasi kita. Kecewanya bisa lebih ketimbang bila kita berkunjung ke sistem sederhana. Apa biang keladi kekecewaan tadi?  Satu kata saja, Ekspektasi !

Dan kata ini mampir lagi di benak kami ketika suatu kali di bulan Nopember 2017 lalu bertandang (kembali) ke ruang audio milik bung Hendra Yoga di kawasan Manahan, Solo.  Bagi sebagian dari anda mungkin akan bosan melihat gambar sistemnya yang sering muncul di media ini. Apalagi secara ‘look’, kurang tampil indah karena sistemnya sederhana. Maka dari itu, kami tidak menampilkan foto ruangannya secara besar besar. Cukup kecil sajalah.  Kami termasuk yang penyuka berkunjung ke sistemnya. Bukan saja karena kotanya sama dengan kota dimana kampong kami berada (jadi sekalian pulang kampong), tetapi juga karena di ruangan ini kami seringkali bisa terlibat diskusi yang menyegarkan tentang audio. Topik apa saja bisa tiba tiba muncul saat mendengar berdua Hendra, dan topic itu akan kami bahas terus, termasuk ketika kemudian kami ingin berjalan bersama mencari kuliner.

Ruangan ini pun kabarnya termasuk ruang audio yang tak jarang menerima kunjungan pehobi audio, untuk sekedar dengar bersama. Tidak hanya dengar berdua. Dengar hingga 7 orang pun pernah, walau ruangannya termasuk berukuran kecil.Bahkan pernah hingga 12 orang masuk. Tumplek ‘blek’ bahkan sambil ada yang membawa speaker. Memang, lebih baik  bila yang datang  satu dua orang saja, karena akan lebih focus mendengarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here