kontak

Epson ingin menawarkan satu alternatif hiburan  keluarga yang sedang sangat direkomendasikan di rumah di masa pandemic ini. Dia perkenalkan projector yang akrab dengan gadget, mudah dibawa, dimainkan di banyak tempat, tak harus ribet dengan perangkat tambahan, multifungsi, dapat mempererat silaturahmi, mudah dipasang, mudah disetting(bahkan awam pun bisa), mudah terhubung ke perangkat dan lain lain. Salah satu yang membiaskan hal itu, ada di modelnya, EH-LS500B.

LS500B membopong tiga input HDMI (ini menarik, karena banyak proyektor sekelas ini hanya memberikan dua input). Salah satunya ditaruh di belakang, dibalik kaver yang bisa dilepas, bersama port USB aktif. Ini mempermudah koneksi, misalnya bila kita memakai Stik streaming(misalnya Roku atau dari Amazon), atau untuk langsung menghubungkannya dengan tablet atau smartphone.

Model yang masuk redaksi, sebelum tutup tahun 2020 ini dalam berbagai fiturnya menyiratkan bahwa ini adalah projector keluarga. Tetapi ukurannya diluar perkiraan kami sebelum membuka boksnya.Kami kira akan lebih kecil dari ini. Dengan tubuh lebih besar dibanding model Epson lain seperti EH TW 100, model ini tak banyak memikul lebih banyak fasilitas ketimbang TW100. Istimewanya? Dia punya lensa ultra short throw. Membuatnya bisa bermain di dekat dinding. Bahkan pada jarak satu meteran pun bisa. Bagi kami sendiri, ini membawa beberapa kelebihan tersendiri.

Lensa ultra short throw ELPLX02 yang digunakan di model ini dan banyak model lain Epson, bermain di 9000 lumen lebih. Menampilkan throw ratio 0.35. Lensa ini jadi solusi ideal untuk instalasi ruang ruang kecil dan aplikasi proyeksi belakang. Dia punya jangkauan lens shift lebar hingga memungkinkan proyektor yang memakainya jadi lebih fleksibel dalam penggunaannya.
  • Saat menonton, tak perlu khawatir mengganggu objek di depan projector bila objek itu ingin digunakan. Tak saling ganggu juga dengan orang yang lewat didepannya. Ini berlaku baik bila kita gunakan layar atau dinding rumah.

 

Posisi projector yang sangat dekat dengan layar atau dinding, menambah kenyamanan dan konsentrasi tonton
  • Lebih mudah dalam menjangkau outlet listrik, karena dia bisa dekat dinding. Jadi, sumber eksternal seperti pemutar disc, console game, dan lain lain yang terhubung, bisa memakai satu dua outlet yang sama atau berdekatan. Tak perlu kabel (kabel listrik, HDMI) yang panjang.

 

Kami mudah saja membuka(unboxing) unit ini, lalu kami taruh diatas lemari plastic kecil.  Kami pasang AC cord, lalu HDMI ke pemutar Blu-ray Samsung. Nyalakan projector, pilih sumber input. Selesai sudah. Bagian yang cukup menuntut kesabaran malah adalah mengepaskan gambar di layar atau dinding. Kami gunakan dinding ruang ini, dan memanfaatkan fitur Keystone, sambil memajukan posisi hingga berdekatan dengan tembok. Kian dekat kelayar, gambar bisa kian diperkecil. Pada posisi tertentu terhadap layar, keystone ini juga selain agar parallel dan sesuai proyeksinya, juga agar tidak terjadi distorsi gambar.

Ultra Short Throw memang solusi untuk ruangan yang berukuran kecil dan terbatas. Dengan projector Epson EH-LS500B ini kita bisa mendapatkan gambar, dari 65 hingga 120 inci, hanya dengan menempatkannya di jarak tertentu, misalnya 40 hingga 82 cm dari layar. Dia mudah ditempatkan diatas sebuah meja atau kabinet di depan dinding.

Koneksi

EH-LS500B punya pilihan koneksi yang cukup banyak. Jika ditengok terminalnya,  ada 3 HDMI. Salah satunya, HDMI yang kompatibel dengan komputer dan perangkat video. Dan di awal kami banyak memakainya untuk berpasangan dengan pemutar Blu-ray maupun laptop yang punya HDMI untuk menonton film YouTube. Ada lagi yang koneksinya ARC. Ini direkomendasikan untuk koneksi ke amplifier AV.

Di depannya ada gril yang bila kita buka ada konektor HDMI  untuk kita hubungkan dia dengan media streaming. Disampingnya ada setelan kontrol focus,  yang bisa digunakan untuk memainkan focus gambar. Kita cukup  menancapkan dongle media streaming ke HDMI ini. Inilah cara termudah selain dengan langsung ke pemutar Blu-ray atau melalui laptop tadi. Disini ada satu dukungan output (2.0A) power supply untuk menyediakan power ke sebuah streaming media player.

Label di tubuhnya, menerangkan teknologi yang dipakai (laser dan 3LCD) serta kemampuan lain seperti HDR, kompatibel dengan Control 4 dan lain lain.Mendukung playback HDR10 dan HLG HDR dan 3D. Menyajikan gambar maksimal di layar 120 inci dari jarak 23 cm.

Kami lihat ada satu port LAN yang menandakan kita bisa terhubung ke projector ini melalui network dengan kabel. Ada juga satu USB-A(untuk koneksi opsional dengan LAN nirkabel. Juga untuk melakukan update firmware. Port RS-232C dan satu koneksi  USB untuk service.

Di sisi samping bodi,  ada filter udara yang bisa diganti atau dibersihkan. Kita hanya perlu membuka kavernya dan mencopot filter itu. Di sistem pendinginnya juga ada ventilasi Intake yang berguna untuk mencegah bagian internel projector mengalami kelebihan panas.  Model ini juga dilengkapi sistem pengaman terhadap pencurian, dengan kunci anti maling. ada Security Slot, yang kompatibel dengan sistem keamaman MicroSaver dari Kensington.

Walau memakai dinding, kami bisa dapatkan warna warna yang menarik mata dan tidak melelahkan. Dengan memainkan mode yang berbeda pada intinya berpengaruh terhadap besar kecilnya output cahaya laser dari tingkat maksimumnya.  Kami lihat, ini termasuk projector laser kelas terjangkau yang mudah mengadaptasikan dirinya kepada nuansa ruang yang gelap, sama baiknya seperti bila di ruangan terang.

Untuk lebih mudah dalam mengatur posisi yang pas, Epson telah memberinya kaki di bagian depan. Dimana saat projector ini diset diatas table, kita bisa mengekstensifkan kaki untuk mendapatkan distorsi vertical yang pas dari gambar. Di kaki belakangnya, ada pendukung juga saat projector diletakkan di atas sebuah meja.

Epson iProjection

Ada satu aplikasi yang kami instal untuk koneksinya dengan smartphone, yakni  iProjection. Aplikasi ini ada di Playstore. Dengan aplikasi ini, anda bisa tanpa kabel menghubungkan projector ke smartphone atau tablet. Juga dapat memanfaatkannya bila ingin terhubung melalui kabel LAN yang ditarik dari kotak server ke port LAN darinya.

Dengan aplikasi ini kabarnya kita bisa memproyeksikan hingga ke empat layar secara simultan dari projector, hingga dari 50 komputer yang terkoneksi ke network. Juga bisa digunakan memproyeksikan gambar dari sebuah terminal mobile melalui sebuah network. Demikianlah, dengan cara ini, kita bisa memproyeksikan data secara nirkabel yang ada di perangkat.

Selain di kamar tidur,kami gunakan juga untuk menonton bersama di ruang keluarga. Disini kami tidak memakai dinding melainkan kain putih sebagai layar. Navigasi menu bisa dengan mudah dan cepat kami mainkan. Ada menu, misalnya mode seperti Picture preset termasuk Cinema, Bright Cinema, Dynamic dan Game. Dua mode Cinema ini memungkinkan fleksibilitas dalam menyesuaikan proyektor terhadap aneka lingkungan tonton berbeda.

Pengoperasian.

Segala kelebihan projector ini tentu akan lebih lengkap bila dia mudah dalam pemakaiannya. Dan ternyata memang kami cepat bernavigasi, memainkan menu menu setingannya. Kami sempat menemui kendala dalam memadukannya dengan smartphone melalui kabel LAN.

Kembali Ultra Short Throw membawa keuntungan tersendiri karena projector jadi tidak terlalu memakan tempat. Penempatan meja, kursi dan elemen lain jadi lebih mudah karena tak perlu takut bersinggungan dengan alas projector. Kipasnya pun tidak berisik. Unitnya tidak panas walau digunakan 2.5 jam. Keseragaman serta kematangan warna tampil baik, untuk ukuran tampilan pada kain putih tebal.

Dengan satu kabel LAN, kami hubungkan EH ini ke server di rumah. Sementara ujung lainnya ke port LAN projector. Kami mainkan menu Network. Dengan nomor IP yng sudah diberikan server, kami pun mencoba mempairingkannya. Ternyata bukan suatu hal mudah bagi kami. Berkali kali tak berhasil.

Disini ada satu pilihan menu setting, yakni Quick dan Advanced. Quick lebih ringkas dengan memasukkan nomor satu iP yang sama di kedua perangkat. Ternyata ada beberapa sub menu tampil tidak aktif, termasuk sub menu QR Code. Juga Search Access Point. Anda perlu sabar untuk memakai koneksi Wired LAN ini.Kami sudah ikuti cara di buku manual, tetapi belum berhasil.

Suara

Ada satu hal menarik di sisi suara. Suara dari film bisa kita keluarkan melalui sepasang speaker stereo yang  sudah built in.

Sepasang speaker stereo, di sisi kiri kanan belakang projector. Mengirimkan suara langsung ke penonton yang berada tak jauh darinya.

Dua speaker 10 Watt ini kami rasakan cukup bisa menampilkan suara film dalam versi sederhananya. Maklumlah untuk speaker sekecil ini. Tetapi untuk sebuah projector sekelas ini, kualitasnya menurut kami sudah bagus. Kesan bass pun masih bisa ditampilkannya, dan treble tidak terasa pecah apalagi melelahkan telinga.

Bila ingin lebih kencang lagi, bolehlah hubungkan dia dengan sebuah speaker Bluetooth kecil (bila ingin menghemat tempat) seperti kala kami memasangkannya dengan sebuah model speaker JBL Flip 3 dengan kabel RCA, dimana terminal audio outputnya sudah ada di belakang.   Speaker ini kami letakkan saja di dekat kami nonton. Bahkan di tempat tidur pun oke.

Saat kami pilih JBL Flip 3 untuk teman EH-LS500B

Mau lebih heboh lagi? Bagaimana kalau kita pasangkan dia dengan soundbar? Tentu dengan kualitas suara 2.1 channel lengkap dengan subwoofernya, nuansa menonton akan jadi hidup. Dan bila ingin yang paling heboh, bolehlah menghubungkannya dengan sistem tata suara multichannel (5.1 channel atau 7.1 channel) lengkap dengan amplifier yang terhubung ke output audio dari EH-LS500B. Sayangnya kami tidak mencoba yang terakhir ini di rumah kami.

Gambar

Untuk gambar, secara ideal memang tidak kami lakukan karena tidak memakai layar khusus, melainkan memakai tembok dan kain putih. Ini sekadar ingin merasakan bagaimana akrabnya projector ini dengan kondisi bila memang belum ada layar di rumah. Dengan memakai dinding dan kain, kami masih bisa menikmati gambar yang terang, detil dan warna yang seragam. Dari jarak sekitar 25 cm, kami masih bisa mendapatkan gambar dengan besar 120 inchi. Sangat menarik untuk anak anak kemudian terperangah melihat layar besar dari sebuah tembok. Seakan tak percaya bisa sebesar itu. Beberapa film seperti Aquaman, The Greatest Showman pun mampu menyita perhatian mereka, tidak saja dari suara yang langsung tersaji dari sepasang speakernya, tetapi juga warna yang solid, khususnya warna warna kuat. Gerakan gambar pun disajikan smooth. Warnanya tidak memudar bahkan saat kadar cahaya bertambah, saat kami nyalakan lampu ruangan.

Saat mencoba koneksi melalui LAN

Ada yang perlu dicatat disini. Projector ini punya Pro-UHD 4K yang menaikkan resolusi asli Full HD (1080p) dan menggunakan pemrosesan enhancement  4K, memungkinkan EH-LS500 menggandakan frame rate-nya.

Menggabungkan dua perangkat (smartphone dan porojector) dalam satu jaringan LAN.

Teknologi 3LCD Epson ini diklaim Epson bisa menyajikan warna warna lebih terang dibanding teknologi projector lainnya, dengan kontras ratio di 2.500.000 : 1. Dengan 4000 lumen, model ini juga menarik bila bermain di daylight dan kondisi terang.

Akhirnya, yang mengesankan darinya adalah juga kemudahan menginstalasi. Kemudahan bernavigasi. Kemudahan dalam melihat sejumla kelebihan gambar, baik ketajaman, minimnya noise. Hanya saja kita perlu sabar dan awas mata terhadap apa yang kita setting, jangan sampai efek pilihan kita malah embuat gambar jadi sedikit kabur dan detilnya jadi kurang tegas. Seringkali kami dapati, dengan tingkat brightness seperti dia, memungkinkan projector ini dapat menampilkan tampilan yang otentik dan alami. Apa kelebihan ini membuatnya pas untuk dijadikan sebagai projector keluarga atau bisnis. Untuk aplikasi hiburan seperti menayangkan film, game (apalagi ada kelebihan di 3D tadi, karaoke dan lain lain. Juga untuk event serius, seperti konferensi online, pengajaran jarak jauh, promosi produk (launching misalnya) dan lain lain.

 

(gatot)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here