Selama ini kita pemain high end kadang berdebat mengenai bagaimana tampilan staging, depth, focus, posisi penyanyi dan pemusik, dan lain lain yang ada di sebuah rekaman yang kita tengah putar. Kita ingin mendapatkan tampilan yang live, seperti saat sang artis tampil. Kenyataannya, hal ini memang tidak akan pernah tercapai, karena di live concert saja kita sangat susah mendapatkan aneka spesifikasi di atas. Semuanya bunyi, dan kita tidak bisa merasakan depth dari para pemain musiknya, atau suara penyanyi yang focus ditengah.Terlebih lagi, banyak hasil rekaman yang kita nikmati itu direkam di studio, bukan dari live concert. Hasil rekaman inilah yang menentukan pada saat play back.

(foto: jonathan-velasquez -unsplash.com)

Bung Jasin Handy dalam sebuah tulisannya di grup Facebook Rumah Audio Indonesia, pernah mengatakan pendapatnya, bahwa dalam audio stereo, kita menilai suatu sistem audio dengan beberapa kriteria. Dia menjelaskan beberapa kriteria itu, yakni :
1. Panggung
sebagaimana sistem tersebut dapat memberikan kembali informasi tentang kondisi pada saat rekaman atau mixing
2, Tonal
bagaimana sistem audio bisa mengeluarkan suara sesuai dengan pada waktu di rekam.
3. Dinamic
Kemampuan sistem audio untuk mengeluarkan suara2 dari piano sampai forte dengan baik serta memberikan detail2 suara yang terekam pada saat pengambilan suara
4. Musicality
Kemampuan sistem audio untuk memberikan rasa yang di maui oleh artis ataupun sound Enginer dalam perekaman

 

Khusus poin 1 diatas, pendapat ini disanggah oleh facebookers bernama Adi Speed yang mengatakan bahwa definisinya tidaklah demikian. Berikut penjelasannya, “Karena saat rekaman, jarang musisi berani tampil live. Kebanyakan diambil per take. Bisa saja keyboard di-take duluan baru belakangan gitar, drums, bass dan terakhir vokal atau kebalikannya. Jadi kalau boleh jujur apa yang kita dengar saat repro dari perangkat kita adalah sound hasil rekayasa sang mixing dan mastering engineer dengan tentu saja sepersetujuan dari sang artis/band dan Label”kata bung Adi.

Disini perlu disinggung juga yang namanya tehnik rekaman. Ada yang menggunakan system live to two track ada juga yang menggunakan dubbing multi chanel. Pada system live to two track, semua pemain musik dan penyanyi bersama sama memainkan musik, dan langsung direkam oleh 2 mic yang ada didepan, sehingga posisi masing masing pemain dan penyanyi akan sangat terasa karena volume dari setiap alat musik yang ditangkap oleh mic, tergantung dari jarak masing masing alat musik terhadap mic dan terhadap alat musik yang lain.

Kelemahan dari system ini, untuk pemain musik yang ada dibelakang, agak jauh dari mic, bunyinya akan lebih pelan, samar-samar dan tertutup oleh suara pemain musik didepannya. Sementara pada system dubbing multi chanel, pemain musik main sendiri-sendiri pada waktu yang berbeda dan setiap alat musik mendapat sebuah mic serta mendapat jatah 1 track. Semua ini diolah oleh seorang sound engineer dengan peralatan canggih untuk menciptakan suasana panggung, depth dan lain sebagainya.

Peran sound designer, sangat menentukan dalam menggambarkan seperti apa panggung yang tersaji dalam rekaman. (foto : Photo by Jesman fabio di Unsplash.com)

Posisi pemusik diciptakan sedemikian rupa sehingga kita bisa merasakan depth, padahal setiap pemusik mempunyai jatah masing-masing 1 mic, sehingga secara logika sebenarnya ini seperti gambar 2 dimensi, karena setiap alat musik mempunyai jarak yang sama terhadap mic. Sedangkan system live to two track seperti gambar 3 dimensi. Akan tetapi pada system dubbing multi channel ini mempunyai kelebihan, setiap alat musik jelas terdengar detailnya, karena ada mic persis didepan setiap alat musik tsb. Mana yang lebih baik, kita membahas hal ini panjang lebar, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here