Lagu, perekam dan kaver piringan hitam boleh sama, tetapi tahukah anda bahwa suaranya belum tentu sama persis? Inilah bila anda gemar mengoleksi album asli dan album re-issue (atau cetak ulang) dari album asli itu. Istilah kerennya, remastered. Bagaimana beda asli dengan re-issue menurutnya?

Satu album sama beda tahun produksinya

Bila anda punya dua atau lebih versi rekamannya, tentu saja anda juga membandingkan kualitas suara yang asli dengan yang reissue. Keduanya ternyata berbeda. Bahkan antara yang asli dengan yang asli pun agak sedikit berbeda. Ada rekaman yang lebih tebal, sementara lainnya sedikit lebi tipis kesan suaranya. Bahkan di istrumen tertentu ada yang di satu versi terdengar jelas, yang lain tampil agak malu malu.

Di album asli, terlihat dengan mudah, bagaimana suara ‘grand’ dari sebuah piano dalam sebuah rekaman, bisa terasakan. Piano ini pun memberikan nuansa ruang yang besar dan megah. Sementara versi re-issue kurang dapat memperlihatkan kemegahan dan keagungan sebuah piano berkelas, sebut saja seperti merk Steinway.


Pernah kami mendengar album Ein Straussfest  (foto atas) dengan versi beda remaster. Menurut kami, versi re-issue lebih terasa kesan rekaman elektroniknya (terlalu digital, alias agak lebih kering, kurang hangat ditelinga). Kesan hidup dan emosional lebih jelas terasakan pada versi yang asli,. Akhirnya setelah lagu ini berakhir, terasalah, betapa soul keduanya berbeda. Kami coba baca kaver tanggal perilisan keduanya. Di versi non asli, ternyata ini merupakan versi re-issue yang dicetak ulang beberapa tahun lalu, sementara yang asli dibuat beberapa puluh tahun lalu.

Salah satu koleksi Hendra Yoga, yang rekaman asli (kiri) dengan yang remaster (kanan)

Jika kita bandingkan rekaman era dahulu dengan rekaman belakangan ini khususnya di dunia vinyl, memang terasa sekali bedanya. Rekaman jaman sekarang terasaiah terlalu digital dan kering, oktaf vokalnya pun agak naik.
Dalam sebuah kunjungan redaksi ke rumah seorang pehobi audio asal Solo, Hendra Yoga, WhatHiFi sempat mencoba membedakan bagaimana rekaman asli dengan rekaman remaster. Sungguh beda rasanya. Hendra pun mengakui lebih nikmat rekaman aslinya.
“Disini kita memang kurang tahu persis, untuk yang direkam ulang, diambil dari mana rekamannya, atau mereka ambil masternya yang keberapa. Jadi remastered itu menurut saya kurang baik. Tidak saja di PH, satu dua CD pun saya kumpulkan versi asli dan cetak ulangnya. Pada satu lagu yang sama tetapi lain rekaman, ternyata bedanya jauh. Di cetak ulangnya, sangat kurang luwes dibandingkan yang asli”kata Hendra

Di banyak rekaman dengan versi yang berbeda, tetap diterangkan tentang bagaiimana mereka menggunakan teknik perekaman, dengan beberapa teknik dan konsep baru. Memang, teknikal boleh hebat, tetapi bagaimana kualitas suaranya?
Anda mungkin punya album PH pressing lama (album Test Pressing). Ini adalah album yang belum diproduksi massal, karena tengah diuji. Bila ternyata banyak yang berpendapat layak dijual, barulah diproduksi massal. Bila tidak bagus, barulah dibuatkan master baru. Album dengan pressing lama termasuk yang banyak dicari orang. Bahkan perburuan ini kian menjadikan hobi audio ini lebih mengasyikan lagi. Berburu koleksi antic, seperti yang juga dilakukan oleh Hendra Yoga. “Hunting dan mengoleksi itu salah satu kesenangan dalam bermain audio. Seorang teman saya pun pernah mengatakan, simpan saja. Kedepannya bakal mahal nilainya. Beberapa album ini di Jepang tengah diburu. Saya lalu membelinya. Tidak untuk dijual memang, karena tokh saya juga suka rekamannya”katanya. Rupanya dimata Hendra, PH merupakan barang yang terbilang langka dan layak dikoleksi. Menurutnya, PH merupakan barang yang tak tergantikan

Beberapa koleksi Hendra yang beberapa diantaranya ada versi remasternya

Inilah keasyikan main audio. Membedakan rekaman dari masa yang berbeda bahkan pada satu album yang sama sekalipun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here